
Di balik perjuangan anak penyintas autoimun, terdapat sosok ibu yang setiap hari menghadapi tekanan emosional, sosial, dan psikologis yang tidak ringan. Perawatan jangka panjang, ketidakpastian perjalanan penyakit, serta tuntutan sebagai pengasuh utama menjadikan ibu rentan mengalami stres kronis yang berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hidupnya. Berangkat dari realitas tersebut, Dosen Psikologi Universitas Setia Budi (USB), Rosita Yuniati S.Psi., M.Psi., Psikolog menguji Model Resiliensi Integratif yang menjelaskan bagaimana ibu mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap berfungsi secara optimal dalam mendampingi anak dengan penyakit autoimun.
Di bawah bimbingan Dr. Setiasih, M.Kes., Psikolog selaku Promotor dan Dr. Andrian Pramadi, M.Si., Psikolog selaku KoPromotor, Rosita melibatkan 399 ibu dari berbagai komunitas autoimun dan RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Kebaruan utama penelitian tersebut terletak pada pengujian model yang memandang resiliensi sebagai hasil interaksi faktor personal, sosial, dan religiusitas, bukan sekadar akibat hubungan linear antarvariabel sebagaimana banyak dijelaskan dalam penelitian sebelumnya. Berlandaskan Teori Ekologi Bronfenbrenner, penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ibu dibentuk melalui interaksi dinamis antara kemampuan individu, dukungan dari lingkungan, dan penghayatan religiusitas yang saling memengaruhi.
Hasil penelitian yang dipaparkan dalam Sidang Terbuka Promovenda Rosita Yuniati di Universitas Surabaya (Ubaya) pada Selasa (14/7/2026), menunjukkan bahwa kemampuan individu, khususnya task-oriented coping, dan dukungan dari significant other, seperti pasangan, tenaga kesehatan atau pendamping utama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap resiliensi. Task-oriented coping, yang dimaksud adalah kemampuan individu dalam menghadapi masalah secara aktif melalui pencarian informasi, perencanaan, dan tindakan nyata. Disisi lain emotion-focused coping, penghindaran masalah serta dukungan dari keluarga dan teman tidak berkontribusi secara signifikan terhadap resiliensi.

Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pengalaman spiritual yang mendalam (religious experience) sebagai bagian dari religiusitas secara signifikan memperkuat manfaat dukungan sosial dalam membangun resiliensi. Temuan ini menegaskan bahwa religiusitas merupakan konstruk multidimensional yang bekerja melalui mekanisme psikologis yang lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami.
Model Resiliensi Integratif yang dihasilkan diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan layanan psikososial, konseling, dan kebijakan kesehatan yang lebih berorientasi pada keluarga. Penelitian ini mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan anak dengan penyakit autoimun tidak hanya ditentukan oleh terapi medis, tetapi juga oleh ketangguhan psikologis ibu sebagai pendamping utama. Ketika ibu mampu bertahan, keluarga memiliki peluang yang lebih besar untuk bertumbuh bersama menghadapi penyakit kronis.

INDONESIA
ENGLISH