USB Lantik 121 Apoteker Baru, Program Studi Profesi Apoteker Cetak 5.652 Lulusan


Program Studi Profesi Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi (USB) Surakarta kembali menyelenggarakan Sidang Fakultas Terbuka dengan acara tunggal Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Apoteker di Hotel Alana, Surakarta pada Kamis (15/10/2026). Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Apoteker ini merupakan yang ke-50 kalinya bagi Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi, USB dan diikuti oleh 121 calon apoteker baru. Hingga hari ini, Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi USB telah menghasilkan lulusan sebanyak 5.652 apoteker.

Ketua Program Studi Apoteker, Fakultas Farmasi, USB, Dr. Apt. Tri Wijayanti, S. Farm, MPH, dalam laporan pendidikan menyampaikan bahwa pada Tahun Akademik 2026/2027 Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi USB sudah mencapai Angkatan 52. Ia juga menyampaikan bahwa calon apoteker baru yang akan dilantik telah dinyatakan lulus dalam rapat yudisium dan telah lulus Ujian Kompetensi Nasional Peserta Didik Profesi Apoteker (Ukomnas PDPA) pada tanggal 25 Agustus 2026.

Dari 120 lulusan pada periode ini, 53 peserta dinyakan lulus sangat memuaskan, 67 peserta dinyatakan lulus dengan memuaskan. Adapun lulusan terbaik pada periode ini berdasarkan perolehan nilai tertinggi Ukomnas PDPA metode Computer Based Test (CBT), yakni Rama Benyamin Rogi.P. Selanjutnya, lulusan termuda pada periode ini yaitu Muslimah dengan usia 22 tahun, 2 bulan, 3 hari dan lulusan tertua yaitu Merry Hetlina Br. Tohang dengan usia 38 tahun, 11 bulan, 27 hari.

Sebagai lulusan terbaik, Rama menyampaikan ucapakan terimakasih kepada semua pihak yang telah mengantarkannya menjadi seorang apoteker. Rama menegaskan bahwa sumpah yang telah ia ucapkan bersama rekan-rekannya bukan sekedar seremoni, melainkan janji yang harus ditepati. “Masyarakat menaruh harapan besar pada kita, tidak hanya dari segi ilmu pengetahuan, namun juga tentang tanggungjawab kita sebagai apoteker. Apapun jalan yang kita pilih, marilah kita jalani dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan, sebab gelar apoteker bukan sekedar nama tapi identitas yang harus kita jaga,” ucap Rama dalam sambutannya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Desie Frihandini Afief, S.KM., MH.SC., berharap apoteker angkatan 50 USB menjadi apoteker yang siap mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang RI Tahun 2023 Tentang Kesehatan telah membawa dampak yang besar di bidang pelayanan kesehatan. Undang-Undang tersebut, kata beliau, memberi dampak pada penyebaran apoteker yang merata. Pasalnya, apoteker memegang peranan penting seperti memastikan pasien mendapatkan terapi obat yang tepat dan rasional.

Selanjutnya, perwakilan anggota Bidang II (Kurikulum) Kolegium Farmasi, Prof. Apt. Azis Saifudin, Ph.D berharap agar apoteker-apoteker lulusan USB menjadi apoteker yang terus bertumbuh. Apoteker, kata dia, harus bisa memberikan pelayanan terbaik sesuai dengan sumpah janji apoteker.

“Mari tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Sekecil apapun pekerjaan kita, mari tunjukan kontribusi dengan menjadi aset institusi. Tahun-tahun pertama (bekerja) buatlah portfolio yang baik agar bisa menjadi apoteker yang dipercaya stakeholder dan masyarakat,” ucapnya memberikan semangat kepada para apoteker.

Semangat dan suntikan motivasi juga disampaikan oleh Ketua Ikatan Alumni Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi, apt. Suwardi, S.Si., M.M. Ia mengatakan bahwa lulusan farmasi memiliki prospek kerja yang luas baik dibidang farmasi maupun akademik. Bahkan tidak sedikit, lulusan apoteker yang melanjutkan studi magister hingga berkarir menjadi dosen. Oleh karena itu, ia berharap apoteker Angkatan 50 USB terus menggali ilmu meskipun sudah menyelesaikan pendidikan profesi apoteker.

Terakhir, Wakil Rektor II USB, Dr. Narimo, S.T., M.M, memberikan apresiasi kepada apoteker angkatan 50 USB yang telah berhasil melalui proses pendidikan profesi apoteker selama 1 tahun. Beliau berpesan agar lulusan apoteker USB menjalankan profesi dengan penuh tanggungjawab, menjunjung tinggi etika, dan terus mengembangkan kompetensi. “Di kehidupan sesungguhnya tidak cukup hanya dengan kecerdasan akademik, perlu ada kecerdasan sikap. Integritas perlu dijunjunjung tinggi,” tandasnya.